Mengenal Kedudukan dan Tugas Kepengurusan Struktur NU


Dalam struktur sebuah organisasi, untuk tiap-tiap organ di dalamnya telah ditentukan tugas dan fungsinya. Namun kadangkala tugas dan fungsi tersebut tidak berjalan sesuai dengan mandat yang telah ditetapkan dalam peraturan organisasi.

Hal ini sering kita jumpai yang notabenya hidup bersosial terlebih yang pernah atau bahkan saat ini masih menjabat atau baru menjabat dalam struktur organisasisi baik keRTan, DKM dan kepengurusan organisasi NU tentunya sering mengalami beberapa seksi bidang atau lembaga tidak berjalan sesuai pada fungsinya. Dan juga yang berawal kultur menjadi struktur kepengurusan yang baru didirikan atau bahkan struktur yang sudah berjalan namun pasif dalam menjalankan tugas program kerjanya.

Apa penyebabnya? Penulis menyimak dari hasil pernah mengalami kepengurusan dari beberapa dan berbagai sumber referensi. Ini menjadi paradigma berawal saat mendirikan organisasi sangat semangat namun pada saat terbentuk masuk dalam struktur bingung gak tahu mau ngapain berikutnya. Ada beberapa alasan mengapa fungsi organisasi tidak berjalan dengan efektif, bahkan terkadang saling mengandalkan.

1. Tidak paham fungsi dan tugas di organisasi.
Tidak pahamnya personil yang menduduki jabatan terkait atau bahkan level pimpinan mengenai fungsi organisasi yang dijalankan menjadi salah satu penyebabnya. Ketidakpahaman ini menyebabkan personil ataupun pimpinan kadangkala salah untuk mengambil langkah. Hal ini hendaknya menjadi perhatian bagi organisasi untuk memberikan pemahaman kepada divisi bidang terkait mengenai fungsi organisasi.

Lain halnya dengan level pimpinan, idealnya seseorang diangkat menjadi pimpinan dalam sebuah organisasi karena telah memahami dan memiliki pengalaman yang mumpuni untuk menjalan fungsi organisasi yang akan dipimpin. Sosialisasi mengenai peraturan dan tugas serta fungsi organisasi yang perlu diketahui oleh personil pada saat memasuki sebuah struktur organisasi kiranya dapat diberikan dan pabila memang dijelaskan poin yang sekiranya belum diketahui secara spesifik.

2. Diskresi.
Diskresi diartikan sebagai kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi ini seringkali menjadi salah satu alasan mengapa fungsi organisasi tidak berjalan. Sebagai contoh, ketika si Fulan dianggap mampu menjalankan sebuah fungsi dalam organisasi maka pemimpin akan meminta si Fulan untuk menjalankan hal tersebut meskipun pada dasarnya itu bukan menjadi fungsi si Fulan.

Hal ini bisa terjadi karena misalnya pimpinan tidak memiliki hubungan yang baik dengan orang yang harusnya menjalankan salah satu fungsi tersebut. Hal ini tidak hanya menyebabkan fungsi organisasi menjadi hilang tetapi juga akan menghilangkan institutional memory serta berada di jalur yang tidak sesuai dengan peraturan organisasi yang telah ditetapkan.

3. Kurangnya Personil.
Kurangnya personil dalam satu organisasi kadang menjadi alasan mengapa sebuah fungsi organisasi tidak berjalan. Pada saat Organisasi kekurangan personil, secara otomatis terdapat fungsi yang akan dirangkap oleh satu orang, namun hal tersebut dapat mengakibatkan personil tersebut menjadi tidak fokus yang mengakibatkan tidak semua fungsi dapat dijalankan seperti yang dilakukan pada saat seluruh fungsi dikerjakan dengan personil yang lengkap.

4. Tumpang Tindih Fungsi.
Tumpang tindihnya fungsi organisasi mengakibatkan salah satu organisasi tidak berjalan dengan baik. Redundansi tersebut bisa terjadi karena struktur organisasi tidak disusun secara efektif. Hal ini kiranya dapat diperbaiki dengan revisi peraturan mengenai fungsi organisasi.

5. Rekrutmen yang Kurang Efektif
Rekrutmen yang tidak didasarkan untuk mengisi fungsi organisasi yang kosong menyebabkan fungsi organisasi yang tidak berjalan akan secara terus-menerus tidak berjalan.  Organisasi menjadi pincang dan tidak dapat menjalankan fungsinya secara lebih efektif.

6. Saling Mengandal Personil
Hal ini sering terjadi terlebih organisasi yang notabenya sosial biasanya hanya melihat sebatas dikehadiran personil bukan dipotensi ahli dibidangnya.

4. Tumpang Tindih Fungsi.
Tumpang tindihnya fungsi organisasi mengakibatkan salah satu organisasi tidak berjalan dengan baik. Redundansi tersebut bisa terjadi karena struktur organisasi tidak disusun secara efektif. Hal ini kiranya dapat diperbaiki dengan revisi peraturan mengenai fungsi organisasi.

5. Rekrutmen yang Kurang Efektif
Rekrutmen yang tidak didasarkan untuk mengisi fungsi organisasi yang kosong menyebabkan fungsi organisasi yang tidak berjalan akan secara terus-menerus tidak berjalan.  Organisasi menjadi pincang dan tidak dapat menjalankan fungsinya secara lebih efektif.

6. Saling Mengandal Personil
Hal ini sering terjadi terlebih organisasi yang notabenya sosial biasanya hanya melihat sebatas dikehadiran personil bukan dipotensi ahli dibidangnya.

Dari beberapa poin terkait formatur dan jobdesck korelasinya berhubungan dengan organisasi manapun. Nah disini penulis mencoba berbagi terkait beberapa istilah nama-nama struktur yang ada ditubuh kepengurusan organisasi NU tentunya juga sama-sama perlu kita ketahui dan fahami biar saat menjalankan struktur roda organisasi bisa berjalan sesuai pada posisi dan tugasnya masing-masing. Mengingat hal ini sering terjadi kesalahpahaman dalam menyikapi berbagai kendala atau permasalahan poin apa yang seharusnya disikapi oleh masing-masing divisi atau personil yang menduduki jabatan tersebut. Terkadang faktor usia dan wawasan menjadi kendala dalam memberikan keputusan dalam kebijakan.

Kesadaran sejarah perlu ditanamkan dalam diri warga NU agar tidak mudah tergiur oleh organisasi-organisasi baru yang jauh dari ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah an-nahdliyah. Kesadaran sejarah dapat dijadikan sebagai benteng yang memperkuat paham Aswaja dari serangan orang-orang ahli Bid'ah karena NU memang lahir untuk membentengi Aswaja an-nahdliyah.

Pesantren yang semula berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam kemudian meningkat menjadi lembaga perjuangan Islam. segala usaha dan perjuangan memajukan dan mengembangkan Islam bermarkas di pesantren di bawah kepemimpinan Kiai pengasuh pesantren..

Biasanya NU disebut sebagai Pesantren besar dan Pesantren adalah NU kecil karena NU didirikan oleh para Kyai pengasuh pondok pesantren ada yang disebut Kyai dan Lurah Pondok atau ketua Pondok pimpinan pengurus pesantren. Nah Rois Aam PBNU dapat diibaratkan sebagai Kiai pengasuh pesantren sedangkan ketua umum PBNU diumpamakan sebagai Lurah Pondok atau ketua pondok adalah istilah pimpinan Syuriah sementara ketua umum adalah istilah untuk pimpinan tanfidziyah.

Kepengurusan dalam Jam’iyah Nadlotul Ulama’ terdiri dari tiga komponen yaitu :
1. Mustasyar
2. Syuriyah
3. Tanfidziah

IKHTISHOR

1. Mustasyar adalah penasehat pengurus NU. Anggota Mustasyar adalah para ulama’ atau tokoh yang telah memberikan dedikasi pengabdian dan loyalitasnya kepada NU.

Tugas Mustasyar, tugas utama mustasyar adalah memberi nasihat kepada Pengurus Nahdlotul Ulama’ menurut tingkatannya baik diminta atau tidak itu mustasyar memiliki tugas menjaga kemurnian garis-garis perjuangan Nahdlotul Ulama’ ( Khitthah Nahdliyyah ) dan menjaga keutuhan pengurus serta warga Nahdlotul Ulama’.

2. Syuriyah adalah pemimipin tertinggi dalam NU, Syuriyah terdiri atas para Ulama’ dan para ahli hukum agama serta kemasyarakatan. Ini sebagaimana Lurah Pondok atau ketua Pondok adalah pelaksana kebijakan Kyai yang merupakan pimpinan tertinggi di sebuah pesantren.

Tugas Syuriyah, sebagai Pembina, pengendali, pengawas dan penentu kebijakan dalam jam’iyah NU sesuai tingkatannya. Di katakana demikian, karena NU adalah kebangkitan para Ulama’ sehingga kepemimipinan terpusat pada para Ulama’.

3. Pengurus Tanfidziyah adalah pelaksana tugas sehari-hari. Pengurus Tanfidziyah terdiri atas warga NU yang memiliki kecakapan berorganisasi dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas kepengurusan dengan baik.

Tugas Tanfidziyah adalah sebagai berikut :
1. Memimpin jalannya organisasi sehar-hari sesuai dengan kebijakan yang ditentukan oleh pengurus Syuriyah.
2. Melaksanakan program jam’iyah NU
3. Membina dan mengawasi kegiatan semua perangkat jam’iyah yang berada di bawahnya.
4. Menyampaikan laporan secara periodic (berskala) kepada pengurus Syuriah tentang pelaksanaan tugasnya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROPOSAL MUSYAWARAH KERJA KE-1 MWC NU CIKARANG UTARA

MWC NU Cikarang Utara Menghadiri Peresmian Ponpes An Nahdloh Kuningan.

Menyambung Silaturahim Satu Keluarga dalam Nahkoda NU.